Telusuri
24 C
id
  • Masuk / Bergabung
Suarana | Media Network - Layanan Digital dalam satu genggaman
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Parlemen
  • Peristiwa
  • HUKRIM & KRIMIMAL
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Network
    • Sumsel
    • Sumut
    • Jateng
    • Jabar
    • Jatim
    • Kalbar
    • Pontianak
    • Aceh
    • Lampung
Suarana | Media Network - Layanan Digital dalam satu genggaman
Telusuri
Beranda EKOSISTEM KARAWANG KLHK sebut Pembakaran batu kapur Kecamatan Pangkalan Penyebab cuaca buruk di Jakarta
EKOSISTEM KARAWANG

KLHK sebut Pembakaran batu kapur Kecamatan Pangkalan Penyebab cuaca buruk di Jakarta

Redaksi
Redaksi
24 Agu, 2023 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

KARAWANG | Suarana.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menduga aktivitas pembakaran batu kapur di Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang menjadi salah satu penyebab buruknya kondisi udara di DKI Jakarta. Tuduhan itu disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada Desire Ariyanti, Subkoor Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup (DLH) Karawang.

“Pihak KLHK bilang akan turun langsung ke Pangkalan untuk meninjau aktivitas pembakaran batu kapur yang menggunakan ban bekas,” kata Desire.


Disebutkan, di lokasi pembakaran batu kapur KLHK akan melakukan uji ambian menggunakan alat manual. Pihak DLH Karawang dipastikan akan mendampingi mereka.

“Kami masih menunggu surat dari KLHK. Mereka baru menyampaikan secara lisan, suratnya belum turun. Mungkin dalam waktu dekat. Sebab kasus di Jakarta sedang parah,” katanya.


Dihubungi terpisah, Kepala DLH Karawang, Wawan Setiawan menyebut dugaan pihak KLHK tidak sepenuhnya benar. Sebab, pencemaran udara yang terjadi di Jakarta kemungkinan besar berasal dari emisi kendaraan.

“Asap pembakaran batu kapur di Pangkalan bisa jadi berkontribusi terhadap pencemaran udara di Jakarta, tapi saya kira prosentasinya kecil,” kata Wawan.

Kendati demikian, Wawan mengaku siap untuk menertibkan aktivitas pembakaran batu kapur di Pangkalan. Hanya saja, kata dia, prosesnya akan sedikit sulit, karena aktivitas itu dilakukan olah pengusaha kecil

Wawan mengaku sudah berkali-kali melakukan penyuluhan agar aktivitas pembakaran dilakukan di dalam tungku yang menggunakan cerobong tinggi. Tapi para pengolah batu kapur itu tidak punya biaya untuk membangun cerobong asap yang tinggi.

Selain itu, lanjut Wawan, DLH telah menyarankan agar pembakaran batu kapur tidak menggunakan ban bekas. Saran itupun tidak digubris dengan dalih harga ban bekas jauh lebih murah dari kayu atau gas.

“Dulu pembakaran batu kapur menggunakan kayu karet. Namun entah siapa yang memulai pembakaran beralih ke ban bekas,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (Ispu) pada aplikasi milik KLHK, kualitas udara di perkotaan Karawang saat ini skalanya 124 PM2.5, kelembaban 69 persen, udara 1.007 dan suhu 30°C. Keterangan itu dikutip pada 23 Agustus 2023, pukul 12.30 WIB.

Data itu menyebutkan jika kualitas udara di Karawang tergolong buruk atau kualitas udara berkategori tidak sehat dan bersifat merugikan manusia, hewan hingga tumbuhan.

Wawan Setiawan lagi-lagi menolak data tersebut. Menurutnya, data dari aplikasi itu tidak menunjukan kualitas udara di Karawang secara keseluruhan.

“Pemkab Karawang memang telah memasang tiga alat pendeteksi kualitas udara. Alat tersebut memang terkoneksi dengan alat milik KLHK di Jakarta,” katanya.

Hanya saja, lanjut Wawan, data yang ditangkap oleh alat itu berasal dari udara dengan radius satu kilometer dari alat terpasang. Sementara alat memang dipasang di pusat perkotaan yang dipadati oleh kendaraan.

“Memang kalau melihat data dari alat itu kondisi udaranya buruk. Tapi itu tidak menggambarkan kondisi udara di seluruh Karawang,” ucap Wawan berkilah.(red/oc)


Via EKOSISTEM
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Advertisement
📢 Ikuti berita terkini Suarana.com di:
WhatsApp Google News
>

Stay Conneted

facebook Like
youtube Langganan
instagram Follow
tiktok

Featured Post

Di Balik Pintu Terkunci: Warga Lahat Ditemukan Meninggal di Dalam Rumah

Redaksi- 11:24:00 PM 0
Di Balik Pintu Terkunci: Warga Lahat Ditemukan Meninggal di Dalam Rumah
LAHAT | Suarana.com - Warga Desa Gunung Kembang, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat, dikejutkan oleh peristiwa duka yang terjadi pada Rabu siang (1…

Trending

Hari Nelayan 2026 di Karawang, Ratusan Warga Pesisir Tolak Kebijakan yang Dinilai Menggusur

Hari Nelayan 2026 di Karawang, Ratusan Warga Pesisir Tolak Kebijakan yang Dinilai Menggusur

5:22:00 PM
Cukup Tunjukkan KTP, Warga Karawang Bisa Berobat Gratis Tanpa BPJS

Cukup Tunjukkan KTP, Warga Karawang Bisa Berobat Gratis Tanpa BPJS

2:02:00 PM
Askun Soroti HPS PUPR Karawang Tak Update, Kontraktor Terancam Merugi

Askun Soroti HPS PUPR Karawang Tak Update, Kontraktor Terancam Merugi

3:12:00 PM
Suarana | Media Network - Layanan Digital dalam satu genggaman

PT. Media Suarana Mahesa

Portal berita terkini dengan informasi terbaru, terpercaya, dan akurat. Temukan berita politik, ekonomi, teknologi, hiburan dan lainnya di Suarana.com.

Contact us: suaranagroup@gmail.com

DMCA.com Protection Status Google News
© 2023 Member of SIG. All Rights Reserved.
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir
  • Kontak Kami
  • Sitemap
  • Kebijakan Privasi