BERITA UTAMA
DAERAH
PENDIDIKAN
0
Di Kota Pangkal Perjuangan, Kisah Bocah yang Tak Pernah Masuk Bangku Sekolah
![]() |
| Ilustrasi |
Opini | Suarana.com
Lirih. Kurus. Kusut. Terlunta dalam sunyi yang panjang.
Di sebuah sudut kota pangkal perjuangan yang kerap luput dari peta perhatian, berdiri seorang bocah kecil bukan sebagai subjek pembangunan, melainkan bayang-bayang yang nyaris tak terlihat. Ia tumbuh tanpa jejak administrasi, tanpa catatan kelahiran, tanpa identitas yang mengikatnya sebagai bagian dari bangsa ini.
Di saat anak-anak lain melangkah mantap menuju sekolah, berseragam rapi dan membawa cita-cita, ia justru berjalan tanpa arah. Kakinya kadang telanjang, menyentuh kerasnya bumi yang tak selalu ramah. Hari-harinya diisi dengan bermain seadanya, atau menunggu menunggu ayahnya pulang dengan secuil harapan di genggaman.
Namun sering kali, harapan itu tak cukup.
Ketika ditanya tentang dirinya, bocah itu hanya tertunduk. Diamnya bukan sekadar tak tahu, tetapi mungkin karena terlalu banyak yang tak pernah ia miliki. Ia bahkan tak punya dasar untuk bermimpi, sebab sejak lahir pun, keberadaannya tak pernah benar-benar tercatat.
Ia hidup, tetapi seolah tak pernah dianggap ada.
Sang ayah hanya bisa pasrah. Dalam sunyi yang sama, ia menatap nasib anaknya dengan kebingungan yang tak terjawab. Bukan tak ingin memberikan pendidikan, namun realitas telah lebih dulu membatasi ruang geraknya.
Hari ini, 2 Mei. Hari Pendidikan Nasional.
Di banyak tempat, kata “pendidikan” dielu-elukan. Ia diangkat tinggi sebagai mercusuar peradaban. Namun di tempat lain yang tak disebutkan, cahaya itu belum sampai. Masih ada ruang-ruang gelap yang menyimpan kisah anak-anak yang tak pernah benar-benar masuk dalam hitungan.
Bagaimana mungkin kita berbicara tentang pemerataan, jika keberadaan saja belum diakui?
Pendidikan sejatinya adalah hak, bukan hadiah. Ia melekat, bukan diberikan dengan syarat-syarat yang tak mampu dijangkau semua kalangan. Namun kenyataan berkata lain ada yang harus berjuang sejak dari titik nol, bahkan hanya untuk diakui sebagai “ada”.
Di sinilah makna Hardiknas seharusnya diuji.
Bukan pada riuhnya seremoni, tetapi pada sunyinya mereka yang belum tersentuh. Bukan pada jumlah sekolah yang berdiri, tetapi pada jumlah anak yang tak pernah sempat masuk ke dalamnya.
Anak itu bukan sekadar kisah.
Ia adalah isyarat.
Isyarat bahwa masih ada celah dalam sistem, masih ada yang tercecer dari perhatian. Dan selama itu masih terjadi, maka pendidikan belum benar-benar menjadi milik semua.
Hardiknas bukan hanya tentang mengenang.
Ia adalah tentang menyadarkan.
Bahwa tugas kita belum selesai.
Keterangan:
Opini ini ditulis berdasarkan fakta lapangan. Seluruh narasi disampaikan dalam bentuk kiasan untuk menjaga sudut pandang kemanusiaan, sementara sumber dan data faktual dapat dihadirkan sebagai penguat dalam pemberitaan lanjutan.
Ditulis oleh: Sekertaris JBN Karawang
Via
BERITA UTAMA


