BERITA UTAMA
EKONOMI
NASIONAL
0
Sumber : Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu
(Rizki Ramdani)
Pendapatan Negara Tembus Rp2.055 Triliun, APBN 2026 Catat Defisit 0,93 Persen PDB
JAKARTA | Suarana.com - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
Hingga 31 Agustus 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65,2 persen dari target APBN 2026.
Realisasi tersebut tumbuh 25,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja pendapatan negara terutama ditopang penerimaan pajak sebesar Rp1.409 triliun, tumbuh 24,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp210,2 triliun atau tumbuh 7,8 persen, sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat Rp435,1 triliun atau meningkat 41,7 persen.
Di sisi belanja, pemerintah telah merealisasikan Belanja Negara sebesar Rp2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari APBN 2026.
Nilai tersebut tumbuh 17,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Belanja Pemerintah Pusat mencapai Rp1.791,5 triliun. Angka tersebut terdiri atas belanja kementerian dan lembaga sebesar Rp912,4 triliun serta belanja non-kementerian/lembaga sebesar Rp879,1 triliun.
Sementara Transfer ke Daerah (TKD) telah terealisasi sebesar Rp504,3 triliun atau 72,8 persen dari target APBN.
Pemerintah menyatakan penyaluran TKD tetap diarahkan untuk mendukung pelayanan dasar serta pembangunan di daerah.
Defisit APBN 0,93 Persen PDB
Di tengah meningkatnya belanja pemerintah, posisi fiskal masih berada dalam jalur yang ditetapkan.
Defisit APBN hingga akhir Agustus 2026 tercatat sebesar 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
APBN juga membukukan surplus keseimbangan primer sebesar Rp154 triliun.
Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan pengelolaan fiskal tetap dilakukan secara hati-hati untuk menjaga kesinambungan APBN.
Sejumlah sektor ekonomi turut mencatat pertumbuhan penerimaan pajak yang tinggi.
Penerimaan pajak dari sektor perdagangan tumbuh 41,2 persen, sektor pertambangan tumbuh 44 persen, sedangkan industri pengolahan meningkat 25,4 persen.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas di sektor perdagangan, industri, dan pertambangan.
Ekonomi Tumbuh 5,45 Persen
Perekonomian nasional juga masih mencatat pertumbuhan positif.
Sepanjang Semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,45 persen, ditopang permintaan domestik yang tetap kuat.
Sementara dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia periode Januari hingga Juli 2026 membukukan surplus sebesar USD3,7 miliar.
Inflasi pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan.
Adapun inflasi inti berada pada level 2,92 persen, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah atau administered prices tercatat 3,32 persen.
Pemerintah menyebut kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga masih relatif terkendali di tengah dinamika harga pangan dan komoditas global.
Pemerintah selanjutnya akan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan kredibilitas APBN.
Belanja negara akan tetap diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi dan investasi, menjaga daya beli masyarakat, serta mendukung program prioritas pembangunan.
Pada saat yang sama, pengelolaan pendapatan, belanja, dan defisit akan terus dilakukan secara terukur agar kesinambungan fiskal tetap terjaga.
Sumber : Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu
(Rizki Ramdani)
Via
BERITA UTAMA
